Waspada Penipuan QRIS & QR Code Palsu: Cara Cek dan Tips Aman Sebelum Scan

  • 6 min read
  • Dec 03, 2025
Table Of Content [ Close ]

Bayar pakai QRIS itu praktis banget. Tinggal scan, masukin nominal (atau otomatis), lalu beres. Karena saking praktisnya, banyak orang jadi “autopilot”: lihat QR, langsung scan, lalu klik bayar tanpa berpikir panjang. Nah, kebiasaan autopilot inilah yang paling disukai pelaku penipuan.

Belakangan, modus penipuan yang melibatkan QRIS / QR Code palsu makin sering terdengar. Bentuknya macam-macam:
mulai dari QR ditempel di kasir, QR dikirim lewat chat mengaku CS, sampai QR untuk “verifikasi” yang ujung-ujungnya bikin uang kamu melayang.
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan praktis: modus yang paling umum, ciri QR mencurigakan, cara cek sebelum scan, serta langkah yang harus kamu lakukan kalau terlanjur scan atau bayar.
Intinya satu: biar kamu tetap bisa pakai QRIS dengan nyaman, tapi tetap jelas aman.

QRIS itu apa (singkat saja), dan kenapa bisa jadi celah penipuan?

Secara sederhana, QRIS adalah standar QR Code pembayaran yang menghubungkan kamu (sebagai pembayar) dengan merchant (sebagai penerima).
Saat kamu scan QR, aplikasi pembayaran akan menampilkan informasi penerima dan meminta konfirmasi sebelum kamu membayar.

Celah penipuan biasanya terjadi ketika:

  • Kamu scan QR yang bukan milik merchant seharusnya (misalnya QR ditempel/ditukar).
  • Kamu scan QR yang ternyata mengarah ke hal lain selain pembayaran (misalnya tautan tertentu, formulir, atau instruksi aneh).
  • Kamu tidak mengecek nama penerima dan nominal sebelum menekan “Bayar”.

Jadi sebenarnya masalahnya bukan QRIS-nya yang “bahaya”, tapi kebiasaan kita yang terlalu cepat dan tidak memverifikasi.

Modus penipuan QRIS/QR Code palsu yang paling sering terjadi

1) QR ditempel di atas QR asli (modus “stiker tempel”)

Ini modus yang paling terkenal. Pelaku menempel QR baru (milik pelaku) di atas QR milik merchant.
Dari luar kelihatan normal karena posisinya memang di tempat yang biasa ada QR pembayaran.
Saat korban scan dan bayar, uang masuk ke rekening pelaku, bukan ke merchant.

2) QR “refund” atau “komplain” palsu (modus CS abal-abal)

Kamu komplain di media sosial, lalu ada akun yang mengaku CS mengarahkan kamu untuk scan QR agar “refund masuk”.
Padahal, refund normal tidak butuh kamu scan QR acak. Ini biasanya diarahkan untuk menguras saldo atau menjebak kamu melakukan transaksi tertentu.

3) QR “verifikasi akun” atau “aktivasi keamanan”

Pelaku membuat seolah ada masalah keamanan: akun akan diblokir, transaksi ditahan, dan kamu harus scan QR untuk verifikasi.
Ini memanfaatkan rasa panik. Aturan emas: verifikasi akun biasanya dilakukan di aplikasi resmi, bukan scan QR yang dikirim lewat chat.

4) QR untuk “bayar DP booking” dari penjual tidak jelas

Ini sering terjadi di jual beli luar marketplace. Pelaku menyuruh kamu scan QR untuk “DP” atau “booking”.
Karena QR terasa modern dan “resmi”, korban merasa lebih aman, padahal tetap saja itu pembayaran langsung ke pihak yang belum terverifikasi.

5) QR di file gambar/PDF yang dibagikan massal (event, tiket, donasi palsu)

Pelaku menyebar poster acara, donasi, atau tiket murah, lalu mencantumkan QR untuk pembayaran.
Karena terlihat “seperti acara beneran”, orang banyak jadi korban.

Tanda-tanda QR Code itu mencurigakan (red flags)

Kalau kamu berada di kasir atau menerima QR dari chat, cek tanda ini:

  • QR terlihat seperti stiker baru menutupi QR lama, ada bekas tempel atau pinggirannya tidak rapi.
  • Merchant tampak kaget karena “kok tidak masuk”, padahal kamu sudah bayar.
  • Nama penerima di aplikasi tidak sesuai dengan nama toko/merchant.
  • Orang yang meminta kamu scan QR memakai gaya bahasa mendesak: “cepat, sebelum hangus”, “harus sekarang”.
  • QR dikirim oleh akun/nomor yang tidak jelas, mengaku CS, dan meminta kamu melakukan langkah aneh.
  • QR dibarengi permintaan data sensitif: OTP, PIN, kode verifikasi, atau “kode rahasia”.

Kalau kamu bertemu satu red flag saja, hentikan autopilot. Tarik napas, lalu verifikasi.

Checklist aman sebelum scan QRIS (praktik 1 menit yang menyelamatkan)

Ini checklist super praktis yang bisa kamu lakukan setiap kali membayar dengan QR:

1) Pastikan QR-nya berasal dari sumber yang benar

  • Di toko fisik: pastikan QR berasal dari kasir/merchant, bukan dari orang asing yang menyodorkan kertas QR.
  • Di chat: jangan scan QR dari “CS” atau nomor random. Jika terkait layanan, cek langsung dari aplikasi resmi.

2) Periksa fisik QR (kalau ada di tempat umum)

  • Apakah QR berupa stiker menutupi stiker lain?
  • Apakah terlihat baru tempel dan beda warna/tekstur dengan papan QR yang biasanya resmi?
  • Apakah tempatnya “aneh”, misalnya ditempel di meja, tiang, atau lokasi yang tidak biasa?

3) Setelah scan, WAJIB cek nama penerima

Ini langkah paling penting. Setelah scan, aplikasi kamu akan menampilkan nama merchant/penerima. Pastikan:

  • Nama penerima nyambung dengan nama toko.
  • Tidak ada nama orang pribadi yang tidak relevan (misal kamu lagi bayar di restoran, tapi penerima “Nama Perorangan”).

Catatan: kadang nama legal merchant bisa berupa PT/CV yang berbeda dari nama brand. Itu masih wajar.
Tetapi kalau benar-benar “nggak nyambung”, sebaiknya berhenti dan tanya kasir.

4) Cek nominal sebelum bayar (terutama jika input manual)

Kalau nominal diinput manual, pastikan kamu memasukkan angka yang benar. Banyak orang rugi bukan karena QR palsu,
tapi karena salah input nominal saat terburu-buru (misalnya tambah nol). Biasakan baca sekali lagi sebelum klik “Bayar”.

5) Minta bukti “pembayaran berhasil”, lalu cocokkan dengan konfirmasi merchant

Setelah bayar, pastikan status di aplikasi kamu “berhasil”, lalu pastikan merchant memang menerima.
Kalau merchant bilang tidak masuk, jangan langsung pergi—lakukan pengecekan saat itu juga.

SOP aman bayar QRIS di toko/kafe (biar tidak kena stiker tempel)

Ini SOP realistis yang tidak bikin kamu ribet:

  1. Scan QR dari area kasir (bukan QR yang ditempel random).
  2. Cek nama penerima setelah scan.
  3. Konfirmasi nominal sebelum bayar.
  4. Simpan bukti transaksi (minimal screenshot) jika ada anomali.
  5. Jika kasir bilang “belum masuk”, tunjukkan nama penerima dan detail transaksi. Ini sering langsung mengungkap apakah QR-nya tertukar.

Kalau kamu melihat stiker QR menutupi QR lain, kamu boleh bilang dengan sopan:
“Kak, ini QR-nya kok seperti ditempel ya? Saya takut salah penerima. Bisa pakai QR yang resmi dari kasir saja?”

SOP aman saat menerima QR dari chat (WA/IG/Telegram)

Aturan emasnya: jangan scan QR yang kamu tidak minta dan tidak kamu verifikasi.
Berikut langkah aman:

1) Jangan scan QR yang mengatasnamakan CS

Kalau ada pesan mengaku CS bank/ewallet/marketplace dan meminta kamu scan QR untuk “refund” atau “verifikasi”,
hentikan. Cara aman: buka aplikasi resmi, cari menu bantuan, atau hubungi kanal resmi yang kamu temukan sendiri (bukan dari pesan itu).

2) Perlakukan QR seperti “nomor rekening”

Kalau kamu mau membayar penjual lewat QR, perlakukan sama seperti transfer:
cek identitas penjual, cek jejak digital, pastikan barang benar ada, dan kalau bisa gunakan escrow/COD.
QR itu hanya metode bayar—bukan jaminan penjualnya jujur.

3) Jika transaksi bernilai, minta metode aman (escrow/COD)

Kalau penjual memaksa kamu bayar via QR dan menolak metode aman, itu red flag.
Lebih baik batal daripada menyesal.

Kalau kamu terlanjur scan dan baru sadar nama penerima tidak sesuai

Kalau kamu baru scan dan melihat penerima tidak sesuai:

  • Jangan lanjut bayar.
  • Tutup halaman pembayaran.
  • Scan ulang dari QR yang benar (minta kasir menunjukkan QR resmi).

Ingat: scan QR saja biasanya belum memindahkan uang. Yang memindahkan uang adalah saat kamu menekan “Bayar/Confirm”.

Kalau kamu terlanjur bayar ke QR yang salah, apa yang harus dilakukan?

Kalau kejadian sudah lewat, fokus pada tindakan cepat dan bukti:

1) Simpan bukti transaksi lengkap

  • Screenshot transaksi berhasil (tanggal, jam, nominal).
  • Nama penerima/merchant yang muncul.
  • ID transaksi (jika ada).

2) Laporkan segera ke penyedia layanan pembayaran kamu

Hubungi kanal resmi (di aplikasi/website resmi) untuk melaporkan transaksi salah penerima/indikasi penipuan.
Jelaskan kronologi: kamu bayar di merchant X, tapi penerima yang muncul Y.

3) Informasikan ke merchant di lokasi (jika kejadian di toko fisik)

Kalau kamu bayar di toko fisik dan ternyata QR-nya palsu/tertukar, informasikan ke pengelola.
Minta mereka memeriksa QR yang ditempel dan menggantinya agar tidak ada korban lain.

Setelah kejadian, pelaku kadang memanfaatkan situasi dengan mengirim pesan lain:
“Saya bantu kembalikan dana, klik ini.” Hati-hati, itu bisa jadi serangan lanjutan.

Tips tambahan anti-ketipu QRIS (kebiasaan kecil yang efeknya besar)

1) Biasakan membaca nama penerima dengan pelan

Ini terdengar sepele, tapi paling efektif. Banyak korban QR palsu terjadi karena orang langsung klik bayar tanpa membaca penerima.

2) Jangan scan QR yang ditempel di tempat “aneh”

Misalnya QR ditempel di poster random, tiang jalan, atau “promo cashback” yang tidak jelas sumbernya.
Kalau kamu tidak tahu siapa penerimanya, jangan scan.

3) Untuk bisnis/UMKM: lindungi QRIS kamu juga

Kalau kamu pemilik usaha, kamu juga perlu menjaga QRIS kamu dari ditempeli QR palsu:

  • Gunakan frame/holder QR yang sulit ditempeli stiker.
  • Periksa QR setiap awal shift.
  • Edukasi kasir untuk mengecek jika ada pelanggan mengeluh “sudah bayar tapi tidak masuk”.

4) Jangan pernah memberikan OTP/PIN meski “atas nama QRIS”

OTP/PIN itu kunci. Jika ada yang meminta OTP dengan alasan verifikasi QRIS, refund, atau keamanan akun:
anggap itu penipuan.

Template chat untuk menolak “QR refund/verifikasi” dari akun CS palsu

Kalau kamu ingin menolak dengan sopan tapi tegas, copas ini:

Terima kasih, tapi saya tidak bisa scan QR atau mengikuti link dari chat untuk refund/verifikasi.
Kalau memang ada masalah, saya akan cek langsung melalui aplikasi/kanal resmi. Mohon tidak meminta OTP/PIN ya. Terima kasih.

FAQ: pertanyaan yang sering muncul tentang QRIS dan penipuan QR

Apakah QRIS bisa “mencuri uang” hanya dengan di-scan?

Umumnya, uang berpindah ketika kamu menyetujui pembayaran (klik bayar) dan mengotorisasi transaksi.
Jadi yang paling penting adalah: jangan menekan bayar jika penerima atau nominal tidak jelas.

Nama penerima kok beda dengan nama toko, apakah pasti penipuan?

Belum tentu. Bisa jadi nama legal merchant berbeda (misalnya nama PT/CV). Tapi jika benar-benar tidak nyambung,
tanya kasir dan minta QR resmi. Kalau kasir juga bingung, lebih baik bayar dengan metode lain.

Apakah semua QR di chat itu berbahaya?

Tidak semua, tapi risikonya tinggi jika kamu tidak bisa memverifikasi identitas penerima dan konteksnya.
Untuk transaksi dengan orang yang belum kamu percaya, QR tetap termasuk “pembayaran langsung” seperti transfer.

Kalau saya salah bayar, apakah bisa dibatalkan?

Tergantung kasus dan kebijakan penyedia layanan. Karena itu, langkah paling efektif adalah pencegahan:
cek penerima dan nominal sebelum bayar. Jika sudah terjadi, segera laporkan melalui kanal resmi layanan pembayaran kamu.

Penutup: QRIS itu aman kalau kamu disiplin verifikasi

QRIS membuat pembayaran cepat, tapi kecepatan itu harus diimbangi dengan kebiasaan cek yang sederhana.
Ingat, penipu menang bukan karena teknologinya canggih, tapi karena kita terburu-buru.

Mulai sekarang, pegang 3 prinsip ini setiap kali ada QR:

  • Cek sumber QR (asalnya dari siapa/di mana).
  • Cek nama penerima setelah scan.
  • Cek nominal sebelum bayar.

Dan sesuai motto JelasAman:
Cek Dulu, Baru Transfer. Dalam konteks QRIS:
Cek Dulu, Baru Scan & Bayar.