Cara Pakai Rekening Bersama (Rekber) yang Aman: Panduan Escrow Anti Penipuan

  • 7 min read
  • Dec 03, 2025
Table Of Content [ Close ]

Banyak orang tahu satu prinsip paling aman saat transaksi online: jangan transfer langsung ke orang yang belum kamu percaya.
Masalahnya, di dunia nyata kamu sering ketemu kondisi “serba sulit”: penjual ada di kota lain, barangnya mahal, pembeli tidak bisa COD, dan transaksi tidak lewat marketplace (misalnya lewat Facebook Marketplace, IG, grup hobi, atau komunitas).
Di titik inilah banyak orang mulai melirik solusi bernama rekening bersama (rekber) atau escrow.

Secara konsep, rekber itu bagus: uang ditahan dulu oleh pihak ketiga, barang dikirim, lalu uang baru diteruskan kalau pembeli sudah menerima.
Tapi ada satu masalah besar yang sering tidak dibahas: rekber juga bisa jadi sarang penipuan kalau kamu salah pilih atau salah prosedur.
Ada “rekber abal-abal”, ada oknum yang mengaku admin escrow, ada link palsu yang seolah rekber resmi, bahkan ada juga skema yang membuat kamu tetap rugi
walau merasa sudah pakai pihak ketiga.

Artikel ini aku tulis dengan gaya praktis ala blogger dan fokus anti-ketipu:
apa itu rekber/escrow, kapan harus dipakai, cara memilih rekber yang aman, SOP transaksi yang benar, red flag yang sering muncul, hingga template chat yang bisa kamu copas.
Targetnya: setelah baca ini, kamu bisa transaksi jarak jauh dengan risiko jauh lebih kecil.

Apa itu Rekening Bersama (Rekber) dan bagaimana cara kerjanya?

Rekening bersama adalah metode transaksi di mana ada pihak ketiga yang menahan dana sementara.
Dalam istilah modern, ini sering disebut escrow. Alurnya umumnya:

  1. Pembeli dan penjual sepakat menggunakan rekber.
  2. Pembeli transfer uang ke rekening pihak rekber (bukan ke penjual langsung).
  3. Rekber mengonfirmasi uang masuk (bukan berdasarkan screenshot, tapi benar-benar masuk).
  4. Penjual mengirim barang ke pembeli (disertai resi + bukti packing).
  5. Pembeli menerima barang dan mengecek kondisi.
  6. Jika sesuai, rekber meneruskan uang ke penjual (dipotong fee bila ada).

Yang membuat rekber terasa aman: uang tidak langsung pindah ke penjual sebelum barang benar-benar sampai dan sesuai.
Tapi ingat, keamanan rekber itu bergantung pada dua hal:
(1) pihak rekbernya benar dan bisa dipercaya, dan (2) prosedurnya dijalankan dengan benar.

Kapan kamu sebaiknya menggunakan rekber?

Rekber ideal dipakai saat:

  • Barang bernilai lumayan/mahal (misal gadget, kamera, motor part, koleksi, barang hobi).
  • Transaksi lintas kota dan COD tidak mungkin.
  • Transaksi terjadi di luar marketplace (jadi tidak ada escrow bawaan platform).
  • Kamu ingin menekan risiko “transfer duluan lalu hilang”.

Tapi kalau kamu punya opsi marketplace escrow resmi, itu biasanya lebih aman dan lebih sederhana, karena infrastrukturnya jelas:
ada sistem komplain, ada kebijakan retur, dan ada tim resolusi. Rekber pihak ketiga bisa jadi alternatif, tapi kamu harus lebih teliti.

Jenis “rekber” yang sering ditemui (dan tingkat risikonya)

1) Escrow bawaan marketplace (paling umum dan biasanya paling aman)

Contohnya transaksi lewat fitur checkout platform. Dana ditahan oleh platform sampai barang diterima.
Risikonya tetap ada (misal sengketa isi paket), tapi secara sistem biasanya lebih terstruktur.

2) Rekber komunitas/grup hobi (bisa aman, tapi sangat tergantung reputasi)

Beberapa komunitas punya admin rekber yang sudah lama dan dihormati. Ini bisa membantu, tapi tetap perlu verifikasi reputasi, karena “nama besar” pun bisa disalahgunakan lewat akun palsu yang mirip.

3) “Rekber” yang datang dari link/akun random (risiko tinggi)

Ini yang sering jadi jebakan: seseorang muncul, mengaku escrow, lalu mengirim link “form rekber” atau “web escrow”. Kalau kamu tidak bisa memverifikasi reputasinya dengan kuat, anggap itu bahaya.

Modus penipuan yang mengatasnamakan rekber (biar kamu langsung ngeh)

Supaya kamu tidak mudah percaya, kenali pola yang sering dipakai:

1) Admin rekber palsu (akun mirip, nama mirip, logo mirip)

Kamu diajak pakai rekber “admin X”, lalu ada akun lain menghubungi kamu dengan nama yang mirip.
Penipu berharap kamu salah kirim uang ke rekeningnya.

Kamu dikirim link yang terlihat profesional, diminta mengisi data atau “konfirmasi transfer”.
Tujuan akhirnya bisa mengambil akun kamu, atau hanya mengarahkan kamu transfer ke rekening penipu.

3) Rekber minta “biaya aktivasi” di awal

Biaya escrow wajar jika dipotong dari transaksi saat dana diteruskan. Tapi kalau dari awal minta biaya besar, apalagi dengan alasan “unlock”, “verifikasi akun”, atau “asuransi wajib” yang tidak jelas, itu red flag.

4) Rekber memaksa buru-buru

Escrow yang benar biasanya rapi dan jelas prosedurnya. Kalau ada yang menekan kamu: “transfer sekarang, nanti barang keburu dibeli orang”, itu pola manipulasi.

Checklist memilih rekber yang aman (versi 10 menit)

Kalau kamu mau pakai rekber, gunakan checklist ini sebelum setuju:

1) Rekber harus punya reputasi yang bisa diverifikasi di luar chat

  • Ada jejak diskusi/testimoni publik di komunitas (bukan hanya screenshot).
  • Nama admin dikenal banyak anggota, bukan “baru muncul kemarin”.
  • Riwayat transaksi lama dan konsisten (bukan mendadak viral).

2) Identitas admin rekber harus konsisten

  • Nomor WhatsApp admin konsisten, tidak gonta-ganti.
  • Akun media sosial admin (jika ada) konsisten dan ada interaksi wajar.
  • Nama rekening penerima rekber nyambung dengan identitas rekber (atau setidaknya bisa dijelaskan secara masuk akal).

3) Aturan main jelas, tertulis, dan tidak berubah-ubah

Rekber yang sehat biasanya punya rule sederhana:

  • siapa transfer ke mana
  • kapan dana dilepas
  • biaya/fee berapa dan kapan dipotong
  • bagaimana jika barang tidak sesuai
  • batas waktu konfirmasi pembeli

4) Rekber yang aman tidak meminta OTP/PIN atau data sensitif

Rekber itu menahan uang, bukan mengelola akun kamu. Jadi kalau ada yang minta OTP, PIN, password,
atau menyuruh kamu login ke link tertentu, itu sudah keluar jalur.

SOP transaksi rekber yang benar (biar aman dari awal sampai selesai)

Ini bagian yang paling penting. Banyak orang sudah “pakai rekber” tapi tetap rugi karena prosedurnya lemah.

Step 1: sepakati detail transaksi secara tertulis

Sebelum uang bergerak, pastikan detail berikut jelas di chat (atau catatan tertulis):

  • Nama barang, varian, kondisi (baru/bekas), minus apa saja
  • Harga barang + ongkir + fee rekber (siapa yang menanggung)
  • Metode pengiriman + estimasi
  • Kesepakatan retur jika barang tidak sesuai
  • Batas waktu pembeli untuk konfirmasi setelah barang diterima

Kalau transaksi bernilai, minta penjual kirim foto/video kondisi real yang spesifik (misalnya video sambil pegang kertas tanggal hari ini).
Ini bukan lebay—ini SOP anti-ketipu.

Step 2: pembeli transfer ke rekening rekber, bukan ke penjual

Pastikan kamu transfer ke rekening yang benar-benar milik rekber. Cocokkan:

  • nomor rekening
  • nama penerima rekening
  • nominal yang ditransfer

Catatan penting: jangan pernah menganggap screenshot bukti transfer sebagai konfirmasi.
Rekber harus memverifikasi dana masuk dari mutasi rekeningnya.

Step 3: rekber mengonfirmasi dana masuk (dan membuat “status transaksi”)

Biar rapi, minta rekber menulis ringkasan status, misalnya:

  • “Dana masuk RpX dari pembeli A untuk transaksi barang Y dengan penjual B.”
  • “Penjual dipersilakan kirim barang dalam 1×24 jam.”

Kalau rekber tidak mau membuat status yang jelas dan hanya bilang “iya nanti saya urus”, itu bukan pertanda baik.

Step 4: penjual kirim barang + bukti packing + resi

Minimal yang sebaiknya penjual lakukan:

  • Foto barang sebelum packing (menunjukkan kondisi)
  • Foto proses packing (terutama barang elektronik/rapuh)
  • Foto paket dengan label/resi yang terlihat (secukupnya)
  • Kirim nomor resi dan ekspedisi

Dokumentasi ini bukan untuk menyulitkan, tapi untuk membantu jika ada sengketa: barang rusak, isi tidak sesuai, atau paket hilang.

Step 5: pembeli terima barang dan lakukan pengecekan dengan benar

Di sinilah banyak orang lengah: barang datang, langsung “oke” tanpa cek. Padahal, inilah momen terpenting sebelum uang dilepas.

Yang disarankan:

  • Rekam video unboxing untuk barang bernilai (dari paket tertutup sampai barang terlihat jelas).
  • Cek fungsi dasar (untuk elektronik: nyala, port, kamera, suara, sinyal, dll).
  • Cocokkan dengan kesepakatan (varian, kondisi, kelengkapan).
  • Jika ada masalah, segera lapor ke rekber sesuai prosedur dan dalam batas waktu.

Step 6: rekber melepas dana hanya setelah pembeli “konfirmasi aman”

Idealnya, konfirmasi pembeli itu singkat tapi jelas, misalnya:

  • “Barang diterima, sesuai deskripsi, aman. Silakan dana diteruskan.”

Kalau ada masalah, jelaskan spesifik dan lampirkan bukti (foto/video).
Jangan hanya bilang “barang jelek”. Dalam sengketa, detail adalah segalanya.

Red flag rekber yang sebaiknya kamu hindari

Kalau kamu melihat salah satu dari ini, sebaiknya mundur:

  • Rekber menghubungi kamu duluan (bukan hasil kesepakatan pembeli-penjual) dan mendesak kamu.
  • Rekber minta OTP/PIN/password, atau minta kamu login ke link.
  • Rekber tidak punya reputasi yang bisa diverifikasi selain “katanya” dan screenshot.
  • Rekber minta biaya besar di awal tanpa struktur yang jelas.
  • Rekber menolak membuat aturan tertulis dan status transaksi.
  • Rekening rekber sering gonta-ganti, atas nama orang berbeda tanpa alasan masuk akal.

Template chat (copas) untuk transaksi rekber biar rapi dan aman

Template 1: mengusulkan rekber dengan aturan jelas

Kak, untuk keamanan transaksi jarak jauh, saya prefer pakai rekber/escrow ya.
Aturannya: saya transfer ke rekber, setelah rekber konfirmasi dana masuk kakak kirim barang + resi,
lalu dana dilepas ke kakak setelah barang saya terima dan sesuai. Fee rekber kita sepakati dari awal.
Kalau setuju, kita lanjut ya. Terima kasih 🙏

Template 2: meminta verifikasi admin rekber (anti akun palsu)

Sebelum lanjut, boleh minta info admin rekber yang resmi (nomor WA + nama rekening penerima) ya.
Saya ingin verifikasi identitasnya dulu biar tidak salah transfer. Terima kasih.

Template 3: konfirmasi penerimaan barang agar dana dilepas

Barang sudah saya terima dan sudah dicek, sesuai deskripsi dan aman.
Silakan dana diteruskan ke penjual ya. Terima kasih.

Template 4: jika ada masalah saat unboxing

Saya sudah terima paket, tapi ada ketidaksesuaian: [jelaskan detailnya].
Saya lampirkan foto/video unboxing sebagai bukti.
Mohon dana ditahan dulu sambil kita selesaikan sesuai aturan. Terima kasih.

FAQ: pertanyaan yang sering muncul soal rekber

Apakah rekber menjamin aman 100%?

Tidak ada yang 100%. Tapi rekber yang benar bisa menurunkan risiko secara signifikan,
terutama untuk transaksi di luar marketplace. Kuncinya: pilih rekber yang reputasinya jelas dan jalankan SOP-nya.

Siapa yang seharusnya membayar fee rekber?

Tergantung kesepakatan. Ada yang ditanggung pembeli, ada yang dibagi, ada yang ditanggung penjual.
Yang penting: jelas sejak awal dan tertulis di chat.

Bagaimana kalau pembeli diam saja dan tidak konfirmasi, dana jadi menggantung?

Rekber yang sehat biasanya punya batas waktu konfirmasi. Misalnya 1×24 jam setelah barang diterima.
Kalau lewat, dana bisa dilepas otomatis atau ada prosedur follow up. Ini alasan kenapa aturan tertulis itu penting.

Bagaimana kalau penjual bilang “ngapain ribet pakai rekber”?

Untuk transaksi jarak jauh dan bernilai, rekber itu wajar. Penjual jujur biasanya paham karena rekber juga melindungi penjual:
pembeli tidak bisa menipu dengan klaim palsu jika ada aturan dan bukti.

Kalau penjual menolak rekber dan hanya mau transfer langsung, apa artinya penipu?

Belum tentu, tapi risikonya meningkat. Jika kamu tetap ingin lanjut, minimal lakukan verifikasi ekstra (video barang bertanggal, jejak digital),
atau pilih opsi lain yang aman seperti marketplace escrow/COD. Kalau penjual memaksa dan menekan, itu red flag.

Kesalahan umum saat pakai rekber (yang bikin tetap ketipu)

  • Memilih rekber dari “admin yang tidak jelas” hanya karena terlihat meyakinkan di chat.
  • Transfer ke rekening yang salah karena tertipu akun palsu.
  • Tidak membuat kesepakatan tertulis soal kondisi barang dan kebijakan sengketa.
  • Pembeli terburu-buru konfirmasi “aman” tanpa cek barang (akhirnya uang terlepas, baru sadar ada masalah).
  • Penjual tidak mendokumentasikan packing dan resi, sehingga sulit membuktikan jika ada klaim.

Penutup: rekber itu alat keamanan, bukan jimat

Rekening bersama/escrow bisa jadi solusi terbaik untuk transaksi jarak jauh di luar marketplace—asal kamu memilih rekber yang reputasinya jelas
dan menjalankan SOP yang rapi dari awal sampai akhir. Jangan biarkan rasa “nggak enak” atau buru-buru membuat kamu melewatkan verifikasi.

Kalau kamu ingin versi super singkatnya, pegang prinsip JelasAman:

  • Verifikasi dulu rekbernya.
  • Uang ditahan sampai barang dicek.
  • Semua aturan harus jelas sejak awal.

Dan tentu, motto utama tetap berlaku:
Cek Dulu, Baru Transfer. Dalam konteks rekber:
Cek Rekber Dulu, Baru Deal.